Minggu, 07 September 2008

Bebagi cerita indah^^

Assalamu’alaikum Wr Wb..

Kaifa haluk Petarung Sejati?

Bagaimana kabar iman?Kabar hati?Kabar fisik?Semoga selalu baik dan menapak maju.

Bagaimana kabar Ramadhannya? Target-target ramadhannya?!

Dari Abu Hurairah ra., dari Nabi SAW, beliau bersabda : ”Barangsiapa yang berpuasa pada bulan Ramadhan dengan iman dan mengharap pahala dari Allah, ia akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu”. HR Bukhari.

Semoga Ramadhan kali ini bisa lebih baik dari ramadhan kemarin dan dapat merubah pribadi kita menjadi pribadi yang lebih berkualitas, lebih bermanfaat bagi orang lain, lebih profesional dalam menjalankan amanah n lebih luar biasa dengan karya-karya besar yang kita hasilkan, amiin. InsyaAllah..

Sebenarnya sudah lama saya ingin menuliskan pengalaman ini dan berbagi dengan yang lain, tapi karena g sempet2(lho kok) jadinya lupa deh, peace.

Berawal dari cucurak(katanya sih dari bahasa sunda) yang artinya makan-makan sebelum ramadhan, yang diadakan oleh BPH Pusat KAMMI IZZAL IPB.

Saya sangat bersyukur, bisa merasakan ukhuwah yang begitu indah disini. Alhamdulillah akhawat yang datang cukup banyak dan sudah mewakili masing-masing departemen dan badan. Masing-masing kemudian memberi kesan-kesan pribadi selama di KAMMI, terutama tentang ukhuwah yang begitu indah terasa dan sistem kaderisasi yang begitu rapi tuk meningkatkan kualitas kami sebagai pengurus dan kader KAMMI.

Masing-masing mempunyai cerita yang berbeda-beda yang membuat saya tergelitik, mengiyakan, dan kaget. Salah dua diantaranya Rodiah staff BK KAMMI IZZAL IPB yang mengatakan ”KAMMI itu seperti keluarga, mas-mas dan mbak-mbaknya begitu baik membimbing saya”. Lalu Rahma Vida staff DKP KAMMI IZZAL IPB juga mengatakan klo ”KAMMI itu seperti keluarga..., apalagi DKP. Saya merasakan suasana kekeluargaan yang sangat indah di KAMMI”. Dan komentar-komentar lainnya yang tak kalah menariknya dan membuat kita untuk kemudian sepakat dan mengatakan bahwa ”aku jatuh cinta pada KAMMI”^-^

Semoga rasa cinta yang muncul ini dapat membuat kita untuk terus semangat dan optimis dalam menjalankan amanah-amanah dalam wajihah dakwah yang telah kita pilih ini. Karena dengan cinta, kita dapat melakukan semua hal dengan sungguh-sungguh sepenuh hati. Dengannya kita dapat menjalankan semua hal tanpa merasa terpaksa. Dengannya kita dapat optimal untuk memberikan yang terbaik yang kita bisa. Cinta yang hakiki adalah cinta-Nya pada kita, n cinta yang karena Allah. Dan sekarang, ternyata aku menyadari bahwa.. ”Aku jatuh cinta pada KAMMI”.

Hal ini pun di setujui oleh Reti staff DKP KAMMI IZZAL IPB setelah pulang dari MK Klasikal, so kita tunggu sepak terjangnya mu Ret!!OK?!^-^

Dta

Senin, 01 September 2008

SEMANGATT!!!^^

Saudara-saudaku, mohon maaf lahir batin ya..
Raih impian dengan melaksanakan target2 kita. OK?!

Sabtu, 30 Agustus 2008

Ahlan wa Sahlan madrasah Ilahiah

hari itu semakin mendekat,kerinduan akan indahnya hari,ukhuwah,cinta,juga pengorbanan makin menguat....maka dengan segala kerendahan hati kuhaturkan pada rekan-rekan pejuang siyasi KAMMI IZZAL IPB.....mohon maaf atas segala kesalahan...SELAMAT BERJUANG DI RAMADHAN MUBARAK 1429 H

Minggu, 18 Mei 2008

Satu cawu pertama

Kita berada di peringkat ke 6 dari semua departemen,SUNGGUH bukan ini yg Manajer khawatirkan,tapi sesungguhnya pun ini bisa menjadi sarana pembantu bagi kita berintrospeksi....
kawan,setelah ini mari kita banyak NGOBROL serius tentang kerjaan2 qt!!
Mari lebih giat untuk kerja profesional...jika untuk orang2 yg bekerja demi duniawinya saja serius kenapa kita yg memperjuangkan hal yg lebih mulia g lebih serius!!!
Bantu ana mengemban amanah ini...Jazakumulloh buat semuanya..proud to be your partner!

MARI KITA BERHENTI SEJENAK


(Ust.M.Anis Matta)

Mari kita berhenti sejenak di sini! Kita sudah relatif jauh berjalan bersama dalam kereta dakwah. Banyak sudah yang kita lihat dan yang kita raih. Tapi, banyak juga yang masih kita keluhkan: rintangan yang menghambat laju kereta,goncangan yang melelahkan fisik dan jiwa,suara-suara gaduh yang memekakkan telinga dari mereka yang mengobrol tanpa ilmu di gerbong kereta ini,dan tikungan-tikungan tajam yang menegangkan. Sementara, banyak pemandangan indah yang terlewatkan dan tak sempat kita potret,juga bnyak kursi kosong dalam kereta dakwah ini yang semestinya bisa ditempati oleh penumpang-penumpang baru tapi tidak sempat kita muat. Dan masih banyak lagi!

Jadi,mari kita berhenti sejenak di sini! Kita memerlukan saat-saat itu; saat dimana kita melepas kepenatan yang mengurangi ketajaman hati,saat dimana kita membebaskan diri dari rutinitas yang mengurangi kepekaan spiritual,saat dimana kita melepaskan sejenak beban dakwah yang selama ini kita pikul yang mungkin menguras stamina kita. Kita memerlukan saat-saat seperti itu karena kita perlu membuk kembali peta perjalanan dakwah kita; melihat-lihat jauhnya jarak yang telah kita tempuh dan sisa perjalanan yang harus kita lalui; meneliti rintangan yang mungkin menghambat laju pertumbuhan dakwah kita; memandang ke alam sekitar karena banyak aspek dari lingkungan strategis kita yang telah berubah.

Sesungguhnya,bukan hanya kita,para dai,yang perlu berhenti. Para pelaku bisnis pun punya kebiasaan itu. Orang-orang yang mengurus dunia itu memerlukannya untuk menata ulang bisnis mereka. Mereka menyebutnya penghentian. Tapi,sahabat-sahabat Rasulullah SAW.--generasi pertama yang telah mengukir kemenangan-kemenangan dakwah dan karenanya berhak meletakkan kaidah-kaidah dakwah—menyebutnya majlis iman. Maka,Ibnu Mas`ud berkata,”Duduklah bersama kami,biar kita beriman sejenak.”

Majlis Iman kita butuhkan untuk dua keperluan. Pertama,untuk memantau keseimbangan antara berbagai perubahan pada lingkungan strategis dengan kondisi internal dakwah serta laju pertumbuhannya. Yang ingin kita capai dari upaya ini adalah memperbaharui dan mempertajam orientasi kita; melakukan penyelarasan dan penyeimbangan berkesinambungan antara kapasitas internal dakwah,peluang yang disediakan lingkungan eksternal,dan target-target yang dapat kita raih.

Kedua,untuk mengisi ulang hati kita dengan energy baru sekaligus membersihkan debu-debu yang melekat padanya selama menapaki jalan dakwah. Yang ingin kita raih adalah memperbarui komitmen dan janji setia kita kepada Allah SWT. bahwa kita akan tetap teguh memegang janji itu;bahwa kita akan tetap setia memikul beban amanat dakwah ini;bahwa kita akan tetap tegar menghadapi semua tantangan;bahwa yang kita harap dari semua ini hanyalah ridhaNya. Hari-hari panjang yang kita lalui bersama dakwah ini menguras seluruh energy jiwa yang kita miliki,maka majlis iman adalah tempat kita berhenti sejenak untuk mengisi hati dengan energi yang tercipta dari kesadaran baru,semangat baru,tekad baru,harapan baru,dan keberanian baru.

Karena itu,majlis iman harus menjadi tradisi yang semakin kita butuhkan ketika perjalanan dakwah sudah semakin jauh. Pertama,karena tahap demi tahap dari keseluruhan marhalah yang kita tetapkan dalam grand strategi dakwah perlahan-lahan kita lalui. Mulai dari perekrutan dan pengaderan qiyadah dan junud dakwah yang kita siapkan untuk memimpin umat meraih kejayaannya kembali,kemudian melakukan mobilisasi social untuk menyiapkan dan mengkondisikan umat untuk bangkit,sampai akhirnya kita membentuk partai sebagai wadah untuk merepresentasikan dakwah di bidang institusi.

Kedua,karena kita hidup di sebuah masa dengan karakter tidak stabil. Perubahan-perubahan besar di lingkungan strategis berlangsung dalam durasi dan tempo yang sangat cepat. Dan perubahan-perubahan itu selalu menyediakan peluang dan tantangan yang sama besarnya. Dan,apa yang dituntut dari kita,kaum dai,adalah melakukan pengadaptasian,penyelarasan,penyeimbangan,dan­­--pada waktu yang sama—meningkatkan kemampuan untuk memanfaatkan momentum. Ketiga,karena kita mengalami seleksi dari Allah SWT. secara kontinu sehingga banyak duat yang berguguran,juga banyak yang berjalan tertatih-tatih.

Semua itu membutuhkan perenungan yang dalam. Maka,dalam majlis iman ini,kita mengukuhkan sebuah wacana bagi proses pencerahan pikiran,penguatan kesadaran,penjernihan jiwa,pembaruan niat dan semangat jihad. Dan inilah yang dibutuhkan oleh dakwah kita saat ini.

Tradisi penghentian atau majlis iman semacama ini harus kita lakukan dalam dua tingkatan;individu dan jamaah. Pada tingkatan individu,tradisi ini dikukuhkan melalui kebiasaan merenungi,menghayati,dan menyelami telaga akal kita untuk menemukan gagasan baru yang kreatif,matang,dan actual disamping kebiasaan muhasabah,memperbaharui niat,menguatkan kesadaran dan motivasi,serta memelihara kesinambungan semangat jihad. Hasil-hasil inilah yang kemudian kita bawa ke dalam majlis iman untuk kita bagi kepada yang lain sehingga akal individu melebur dalam akal kolektif,semangat individu menyatu dalam semangat kolektif,dan kreativitas individu menjelma menjadi kreativitas kolektif.

Kalau ada pemaknaan yang aplikatif terhadap hakekat kekhusyukan yang disebutkan Alquran,maka inilah salah satunya. Penghentian seperti inilah yang mewariskan kemampuan berpikir strategis,penghayatan emosional yang menyatu secara kuat dengan kesadaran dan keterarahan yang senantiasa terjaga di sepanjang jalan dakwah yang berliku dan curam. Maka,Allah SWT mengatakan,”Belumkah datang saat bagi orang-orang beriman untuk mengkhusyukkan hati dalam mengingat Allah dan dalam (menjalankan) kebenaran yang diturunkan. Dan bahwa hendaklah mereka tidak menjadi seperti orang-orang yang telah diberikan Alkitab sebelumnya (dimana) ketika jarak antara mereka (dengan sang Rasul) telah jauh,maka hati-hati mereka menjadi keras,dan banyak dari mereka yang menjadi fasik.” (QS.Alhadid:16)

Beginilah akhirnya kita memahami mengapa Rasulullah saw.menyunahkan umatnya melakukan itikaf pada sepuluh hari terakhir di bulan Ramadhan;atau mengapa Allah SWT menanamkan kegemaran berkhalwat pada diri Rasulullah SAW tiga tahun sebelum diangkat menjadi Rasul;atau bahkan mengapa Umar bin Khattab mempunyai kebiasaan itikaf di Masjidil Haram sekali sepekan di masa jahiliyah. Begini pula akhirnya kita memahami mengapa majelis-majelis kecil para sahabat Rasulullah SAW di masjid atau di rumah-rumah berubah menjadi wacana yanv melahirkan gagasan-gagasan besar atau tempat merawat kesinambungan iman dan semangat jihad. Maka ucapan mereka ,kata Ali bin Abi Thalib,adalah zikir,dan diam mereka adalah perenungan.

Tradisi inilah yang hilang di antara kita sehingga diam kita berubah menjadi imajinasi yang liar; ucapan kita kehilangan arah dan makna. Maka,dakwah kehilangan semua yang ia butuhkan;pikiran-pikiran baru yang matang dan brilian,kesadaran yang senantiasa melahirkan kepekaan,dan semangat jihad yang tak pernah padam di sepanjang jalan dakwah yang jauh dan berliku.



Kamis, 24 April 2008

PUBLIC SPEAKING



Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh

dan berkata: "Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri"


(QS 41:33, Al Fushshilat)


Public speaking atau berbicara di muka umum sudah sangat tua usianya. Para Rasul menyampaikan risalah kenabian kepada umatnya melalui media ini. Demikian pula, Rasulullah Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam menggunakannya untuk berda’wah menyampaikan wahyu Allah maupun pesan-pesan agama yang lain. Dari dulu sampai sekarang public speaking masih menjadi salah satu bagian kebudayaan umat manusia yang cukup dominan dalam menyampaikan informasi, menjelaskan ide-ide, menyebarluaskan ilmu pengetahuan dan lain sebagainya.

Public speaking atau sering disebut dengan pidato adalah ucapan yang tersusun baik dan ditujukan kepada orang banyak. Kepandaian berbidato sering disebut dengan rhetorika atau oratori, sedang orangnya disebut dengan rhetor atau orator. Berpidato merupakan seni percakapan yang didukung dengan penggunaan bahasa yang baik dan wawasan keilmuan yang luas. Berpidato dalam dunia pesantren sering disebut dengan khithabah dan orangnya disebut dengan khatib. Kita dapat melihat orang yang cakap dalam berpidato dalam forum-forum kenegaraan, pengajian, ceramah, diskusi, debat, kampanye, pelatihan, dan lain sebagainya.



JENIS DAN METODE


Public speaking merupakan bagian kehidupan sosial umat manusia. Mereka saling berkomunikasi satu sama lain dalam suatu kesempatan atau forum-forum tertentu. Ada beberapa jenis public speaking yang kita kenal di antaranya adalah:

  1. Khotbah. Berbicara di muka umum khususnya untuk tujuan penyampaian pesan-pesan agama.

  2. Propaganda. Berbicara di muka umum untuk menyampaikan ide dengan upaya keras meyakinkan pendengar.

  3. Kampanye. Berbicara di muka umum untuk kelompok tertentu (partai) dengan mempengaruhi massa.

  4. Penerangan. Berbicara di muka umum untuk menerangkan sesuatu, misalnya program, permasalahan, pembangunan dan lain sebagainya.

  5. Agitasi. Berbicara di muka umum dengan tujuan untuk membakar semangat massa.

  6. Orasi ilmiah. Berbicara di muka umum, khususnya untuk masyarakat ilmiah, yang dilakukan oleh seorang ahli dengan menggunakan bahasa teoritis, ilmiah dan rasional.

  7. Reportase. Berbicara di muka umum untuk menyampaikan laporan tentang sesuatu kejadian secara terbuka.

Berbicara di muka umum bukanlah hal yang mudah dilakukan oleh setiap orang, namun bukan pula hal yang teramat sulit untuk dipelajari. Untuk dapat berbicara di muka umum dengan baik membutuhkan kesiapan mental dan memerlukan keterampilan dalam penggunaan kata-kata, bahasa, logat, mimik wajah, peralatan dan penguasaan materi. Jam terbang atau pengalaman seseorang dalam berbicara di muka umum sangat berpengaruh terhadap kualitas pembicaraannya. Sebagai pedoman yang kiranya dapat membantu, ada baiknya memperhatikan metode-metode public speaking berikut ini:

  1. Metode langsung. Disebut dengan metode impromptu, yaitu berpidato secara langsung dengan mengandalkan kemampuan, kemahiran dan wawasan ilmu. Dilakukan tanpa persiapan yang memadai.

  2. Metode naskah. Berbicara di muka umum dengan bantuan naskah atau teks tertulis yang telah dipersiapkan. Dapat kita jumpai dalam pidato kenegaraan, siaran televisi atau acara-acara resmi.

  3. Metode hafalan. Berpidato dengan menghafal naskah atau teks yang telah dipersiapkan, khususnya dalam penggunaan bahasa.

  4. Metode variatif. Menggabungkan ketiga metode sebelumnya. Dilakukan secara langsung dengan memperhatikan urut-urutan pembicaraan dan didukung persiapan naskah atau kerangka pidato. Penggunaan bahasa dan kata-kata yang dipilih relatif bebas, namun isi pembicaraan berorientasi pada naskah.

SUSUNAN PEMBICARAAN


Menyusun pembicaraan di muka umum agar dapat menjelaskan permasalahan dan memuaskan pendengar memerlukan keterampilan tersendiri. Secara umum susunan pidato -khususnya dalam acara resmi- memiliki sistimatika sebagai berikut:


  1. Pembukaan.

Islam mengajarkan agar pembicaraan kita bermanfaat dan mendapat rahmat Allah. Untuk itu pidato yang baik perlu dimulai dengan salam, memuji Allah, bersyahadat dan bershalawat kepada Rasulullah. Untuk membuka pembicaraan, disampaikan ucapan terima kasih atas kesempatan berbicara yang diberikan, memperkenalkan diri dan menyampaikan secara ringkas pokok-pokok pembicaraan yang akan dibahas. Maksud dari pembukaan adalah untuk mengajak para hadirin memperhatikan pembicaraan dan mempersiapkan mereka untuk berkonsentrasi pada masalah yang akan disampaikan.


  1. Isi bahasan.

Sebagai inti dari berbicara di muka umum atau berpidato, isi bahasan harus:

  1. Disampaikan dengan jelas, sistimatis dan menggunakan bahasa efektif.

  2. Memiliki kerangka pembicaraan yang urut dan dapat dimengerti oleh pendengar.

  3. Membahas tema dengan disertai alasan-alasan yang kuat serta didukung informasi, fakta, data dan analisa yang logis.

  4. Untuk ceramah agama Islam, menyampaikan ayat-ayat Al Quraan dan atau Al Hadits yang berhubungan erat dengan pembahasan.

Pada prinsipnya, seseorang yang berbicara di muka umum harus menyampaikan pokok-pokok bahasan dengan bahasa yang tepat dan ulasan yang memikat; jelas apa yang dia maksudkan, argumentatif dan dapat dimengerti para pendengarnya.


  1. Penutup.

Merupakan rangkuman dan kesimpulan pembicaraan yang telah disampaikan. Menjadi klimaks dari pidato, sehingga memberi kesan yang kuat pada hadirin. Bilamana perlu disertai do’a dan harapan. Setelah itu diakhiri dengan permohonan ma’af bila ada kekhilafan dan ditutup dengan salam.

TEKNIK BERPIDATO


Untuk berbicara di muka umum diperlukan teknik-teknik tertentu yang harus dipahami. Bukan hanya teknik saat berbicara saja yang sangat penting, tapi persiapannya sendiri merupakan faktor yang sangat mempengaruhi keberhasilan.


  1. Teknik mempersiapkan pidato.

  1. Menentukan tujuan. Biasanya dinyatakan dalam tema atau judul pidato.

  2. Memahami pendengar. Apakah hadirinnya anak-anak atau dewasa, laki-laki atau perempuan, bagaimana tingkat pendidikannya, lingkungan masyarakatnya, jenis forumnya, bagaimana tanggapannya dan lain sebagainya.

  3. Menyusun pidato dengan baik. Bilamana perlu dibuatkan naskah dengan didukung referensi yang sesuai.

  4. Berlatih dengan serius, baik materi, vokal, bahasa, gaya, intonasi dan lain sebagainya.

  5. Mempersiapkan diri, baik fisik maupun mental, terutama rasa percaya diri.

  6. Menghadiri forum sebelum acara dimulai.


  1. Teknik melaksanakan Pidato

  1. Berpenampilan rapi dan sopan disesuaikan dengan forum.

  2. Menyampaikan pidato dengan tenang, penuh rasa percaya diri dan menghargai pendengar.

  3. Menguraikan pidato secara sistimatis. Bilamana perlu diselingi dengan humor (bukan lelucon).

  4. Menerangkan permasalahan secara jelas, argumentatif dan dapat didengar maupun dimengerti para hadirin.

  5. Mengatur dan memperhatikan waktu bicara.

  6. Bila terjadi kekurangan atau kekhilafan tidak segan untuk meminta ma’af.

  7. Membuka dan mengakhiri pembicaraan dengan salam.







PENUTUP


Kemampuan berbicara di muka umum (public speaking) sangat banyak manfaatnya, di antaranya membantu para da’i atau mubaligh dalam menda’wahkan Islam. Dengan keahliannya yang memukau seorang da’i dapat menerangkan Islam dengan jelas dan mudah mengajak jama’ah untuk meningkatkan iman dan taqwa.

Demikian pula bagi anggota dan pengurus Remaja Masjid, kemampuan public speaking sangat menunjang keberhasilan dalam berorganisasi. Karena dengan kemampuan berbicara di muka umum yang baik seorang aktivis Remaja Masjid dapat menjelaskan gagasannya, mengajukan usul, bertanya dan menyampaikan pendapat secara jelas serta memudahkannya dalam memimpin, memberi motivasi, melakukan koordinasi dan lain sebagainya








Jumat, 11 April 2008

Ngasal Pilih Gubenur ??

Elvira Nurfadhilah

Pilgub Jawa Barat Langsung adalah momen yang sangat penting. Ini adalah momen pertama kita bisa menyuarakan aspirasi kita dalam pemilihan Gubernur Jawa Barat secara langsung. Setiap orang memiliki hak suara yang sama, baik terpelajar, atau tidak, tua, muda, kaya, miskin semua mempunyai hak yang sama. Untuk menentukan orang no 1 di Jawa Barat, yang akan menetukan kebijakan di Jawa Barat yang kita cintai 5 tahun ke depan.

Sungguh Ironis bila momen penting ini berlalu begitu saja, tanpa ada perbaikan yang signifikan untuk Jawa Barat. Mengurus Jawa Barat memang bukan hal yang mudah, perlu kesungguhan mengurus penduduk Jawa Barat yang mencapai sekitar 40 juta penduduk. Masalah Kemiskinan, Kesehatan, Lapangan Pekerjaan, Pendidikan, Mahalnya sembako menjadi PR besar untuk Gubenur dan rengrengan asistennya yang akan mengurus kebijakan-kebijakan yang akan diambil dalam kepemimpinannya. Jangan sampai anggaran-anggaran dana justru mengalir ke kantong peribadi mereka dengan mengarang kebijakan-kebijakan yang seolah penting padahal hanya sekedar fiktip belaka.

Karena itu gunakan hak pilih kita dengan sebaik-baiknya. Jangan sia-siakan suara kita dengan memilih orang yang tak bertanggung jawab untuk memimpin Jawa Barat. Dari Sekitar 40 juta penduduk jawa barat yang terdaftar di KPU hanya sekitar 30 juta yang masuk dalam DPT, bagi warga Jawa Barat yang belum terdaftar DPT jangan berkecil hati. Mungkin ada oknum-oknum yang melakukan kecurangan dengan menghilangkan hak-hak suara kita, banyak cara mereka lakukan mempersulit untuk menjadi DPT. Kita tetap bisa memberikan konteribusi terbaik kita dengan mengingatkan orang-orang di sekitar kita agar tidak lupa dan ngasal memilih Gubernur. Buktikan 13 April adalah bentuk kepedulian kita terhadap nasib Jawa Barat.

Bagi siapapun yang terpilih nanti menjadi Gubernur harus ingat setiap janji yang diucapkan, dan harus ingat dana kampanye yang digunakan bukan sebagi aset untuk memperoleh kekayaan yang lebih besar. Tapi aset agar bisa mempunyai kesempatan untuk bisa memperbaiki Jawa Barat. Tolak Money Politik dari para Monkey-Monkey Politik.Tidak ada namanya menghalalkan segala cara bagi orang-orang yang bermartabat. Aksi Mahasiswa dan Pelajar Bogor kemarin (10 April 2008) adalah salah satu bukti kepedulian generasi muda akan nasib Jawa Barat 5 Tahun Ke depan dengan lantang dan Idealisme yang tinggi menyerukan ”Tolak Money Politik, Money Politik Awal Korupsi”. Bila menemukan kecurangan segara hubungi KPUD daerah anda, KPUD Bogor bisa menjadi salah satu contoh KPUD berjanji mau bersungguh-sungguh mengawal Pilgub ini agar bersih dari Money Politik dan bila terbukti ada kecurangan dalam proses ini siap untuk mendiskualifikasikan calon tersebut.

Dengan adanya kesinergian antara semua elemen komponen Jawa Barat Masyarakat, KPUD, Pemerintah dan segala pihak yang terkait untuk sama-sama satu Visi dan Misi agar terpilih Gubernur Jawa Barat yang Jujur, Bertanggung Jawab, dan siap berkomitmen membawa Jawa Barat menjadi lebih baik, aman dan sejahtera.